Motivasi, Pengajaran, dan Pembelajaran

MOTIVASI

Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama.
·         Perspektif tentang Motivasi
-          Perspektif Behavioral, menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid.
-          Perspektif humanistis, menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka.
-          Perspektif kognitif, pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan. Motivasi kompetensi, yaitu ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien.
-          Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan, motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman.

*      Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi ekstrinsik, melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Biasanya dipengaruhi dengan imbalan dan hukuman.
Motivasi intrinsik, motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).

  •   Dua kegunaan hadiah :

1.      Sebagai insentif agar mau mengerjakan tugas, di mana tujuannya adalah mengontrol perilaku murid
2.      Mengandung informasi tentang penguasaan keahlian.

  • Atribusi

Atribusi adalah sebab-sebab yang dianggap menimbulkan hasil. Atribusi ketika kita merasa dan mendeskripsikan perilaku seseorang dan mencoba menggali pengetahuan mengapa mereka berperilaku seperti itu.

  •     Self-efficacy

Self-efficacy adalah keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan memproduksi hasil yang positif. Murid dengan self-efficacy rendah mungkin menghindari banyak tugas belajar, khususnya yang menantang dan sulit, sedangkan murid dengan self-efficacy tinggi akan mau mengerjakan tugas-tugas seperti itu. Murid dengan self-efficacy tinggi lebih mungkin untuk tekun berusaha menguasai tugas pembelajaran ketimbang murid yang berlevel rendah.


  • Kecemasan (anxiety)

Kecemasan adalah perasaan takut dan kegundahan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan. Jika murid kadang merasa cemas atau khawatir saat menghadapi kesulitan disekolah, seperti saat akan mengerjakan ujian bisa dikatakan normal.

  •        Motif sosial

Motif sosial adalah kebutuhan dan keinginan yang dikenal melalui pengalaman dengan dunia sosial.

*    Hubungan sosial
1.      Orang tua
2.      Teman sebaya
3.      Guru\

Beberapa strategi untuk melindungi harga diri murid dan menghindari kegagalan adalah :

  1.           Nonperformance, strategi paling jelas untuk menghindari kegagalan adalah tidak mau mencoba. Taktik tidak mau mencoba ini antara lain : tampak ingin menjawab pertanyaan guru tetapi berharap guru memanggil murid lain
  2.           Berpura-pura, agar tidak dikritik karena tidak mau mencoba, beberapa murid tampak berpartisipasi tetapi dia melakukannya demi menghindari hukuman, bukan untuk sukses.
  3.           Menunda-nunda, murid yang menunda belajar sampai menjelang ujian dapat menghubungkan kegagalan mereka pada manajemen waktu yang buruk.
  4.          Menentukan tujuan yang tak terjangkau, menetapkan tujuan setinggi-tingginya sehingga kesuksesannya menjadi mustahil.
  5.           “kaki kayu akademik”, dalam cara ini, murid mengakui kelemahan personal kecil agar kelemahannya yang lebih besar tidak diketahui.

Martin Covington dan rekan-rekannya mengusulkan sejumlah strategi untuk membantu murid mengurangi kesibukannya dan menghindari kegagalan, yaitu :
  1.           Memberi murid tugas yang menarik dan memicu rasa ingin tahu.
  2.           Membuat sistem hadiah sehingga semua murid mau mengerjakan tugas, bukan hanya murid yang cerdas.
  3.           Membantu murid menentukan tujuan yang menantang dan realistis.
  4.           Memperkuat asosiasi antara usaha dan harga diri.
  5.           Mendorong murid untuk memegang keyakinan positif terhadap kemampuan mereka.
  6.           Meningkatkan hubungan guru dengan murid dengan menekankan peran sebagai sumber daya manusia yang akan membimbing dan mendukung usaha pembelajaran para murid.

Pelajar yang Tidak Biasa

Pelajar yang Tidak Biasa

Pelajar yang “tidak biasa” (exceptional) adalah anak-anak yang memiliki gangguan atau ketidakmampuan dan anak-anak yang tergolong berbakat.

SIAPAKAH ANAK YANG MENDERITA KETIDAKMAMPUAN ITU?
Disability adalah keterbatasan (ketidakmampuan) personal yang membatasi pelaksanaan fungsi seseorang.
Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan pada orang yang menderita ketidakmampuan.

Gangguan Indra
Gangguan indra mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan dan pendengaran.
  •  Gangguan penglihatan

Sering memicingkan mata, membaca buku dari jarak yang amat dekat, sering mengucek-ucek mata, dan sering mengeluh karena pandangannya kabur atau suram, maka suruh mereka untuk memeriksakan diri. Ini termasuk murid yang menderita low vision dan murid buta. Anak yang menderita low vision punya jarak pandang antara 20/70 dan 20/200. Anak yang “buta secara edukasional” (educationally blind) tidak bisa menggunakan penglihatan mereka untuk belajar dan harus menggunakan pendengaran dan sentuhan untuk belajar.
  • Gangguan pendengaran

Anak yang tuli secara lahir atau menderita tuli saat masih anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya. Pendekatan pendidikan untuk membantu anak yang punya masalah pendengaran terdiri dari dua kategori: pendekatan oral dan pendekatan manual. Pendekatan oral antara lain menggunakan metode membaca gerak bibir. Pendekatan manual adalah dengan bahasa isyarat dan mengeja jari.

Gangguan Fisik
  1.  Gangguan Ortopedik biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang, atau sendi. Cerebral palsy adalah gangguan yang berupa lemahnya koordinasi otot, tubuh sangat lemah dan goyah (shaking), atau bicaranya tidak jelas
  2. Gangguan Kejang-kejang. Jenis yang paling sering dijumpai adalah epilepsi, epilepsi adalah  gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang.


Retardasi Mental
Kondisi sebelum 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan(biasanya nilai IQ-nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari.

Klasifikasi dan Tipe Retardasi Mental
Retardasi mental di golongkan menjadi retardasi ringan, moderat, berat, dan parah.

Penyebab
1.      Faktor genetik
a.      Down syndrome: bentuk retardasi mental yang ditransmisikan secara genetik sebagai akibat adanya kromosom ekstra (kromosom ke-47)
b.      Fragile X syndrome: bentuk retardasi mental yang ditransmisikan secara genetik sebagai akibat dari kromosom x yang tidak normal.
2.      Kerusakan otak
Fetal alcohol syndrome: serangkaian ketidaknormalan, termasuk retardasi mental dan ketidaknormalan wajah, yang menimpa anak dari ibu yang suka minum minuman beralkohol selama kehamilan.

Gangguan Bicara dan Bahasa

Gangguan bicara dan bahasa: sejumlah masalah problem bicara yaitu:
  1. Gangguan Artikulasi: problem dalam melafalkan suara secara benar.
  2. Gangguan Suara: gangguan dalam menghasilkan ucapan, yakni ucapan yang keras, kencang, terlalu keras, terlalu tinggi atau terlalu rendah nadanya.
  3.  Gangguan Kefasihan: gangguan yang biasanya disebut “gagap”
  4. Gangguan Bahasa: kerusakan signifikan dalam bahasa reseptif atau bahasa ekspresif anak.
  5. Bahasa Reseptif: Resepsi dan pemahaman bahasa.
  6. Bahasa Ekspresif: kemampuan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pemikiran dan berkomunikasi dengan orang lain.

Ketidakmampuan Belajar
Learning Diasbility adalah ketidakmampuan dimana anak:
1.      Punya inteligensi normal atau di atas rata-rata.
2.      Kesulitan setidaknya dalam satu atau lebih mata pelajaran.
3.      Tidak punya problem atau gangguan lain, seperti retardasi mental, yang menyebabkan kesulitan.
Dyslexia adalah kerusakan berat dalam kemampuan membaca dan mengeja.

Identifikasi
Identifikasi awal terhadap gangguan belajar biasanya dilakukan oleh guru di kelas. Apabila dicurigai ada anak yang mengalaminya, guru akan memanggil spesialis.

Strategi Intervensi
Banyak intervensi difokuskan pada upaya meningkatkan kemampuan membaca si anak.

Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah ketidakmampuan dimana anak secara konsisten menunjukkan satu atau lebih ciri-ciri berikut:
1.      Kurang perhatian
2.      Hiperaktif
3.      Impulsif

Gangguan Perilaku dan Emosional
Gangguan Perilaku dan Emosional adalah problem serius dan terus-menerus yang berkaitan dengan hubungan, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah, dan juga berhubungan  dengan karakteristik sosio-emosional.

ISU PENDIDIKAN YANG BERKAITAN DENGAN  ANAK YANG MENDERITA KETIDAKMAMPUAN
1.      Aspek Hukum
·         Individual with Disabilities Education Act (IDEA)
·         Least Restrictive Environment (LRE)
2.      Penempatan dan Pelayanan
·         Penempatan. Penempatan anak dengan ketidakmampuan ini disusun dari tempat yang kurang restriktif sampai ke yang paling restriktif.
·         Pelayanan. Pelayanan untuk anak dapat disediakan oleh guru kelas regular, guru sumber daya, guru pendidikan khusus, konsultan kolaboratif, professional lain atau tim interaktif.
3.      Orang Tua sebagai Mitra Pendidikan
·         Teknologi. Ada dua tipe teknologi:
1.      Teknologi instruksional berupa berbagai tipe hardware dan software, dikombinasikann dengan metode pengajaran yang inovatif untuk mengakomodasikan kebutuhan belajar di kelas.
2.      Teknologi bantuan berupa beragam perangkat dan pelayanan untuk membantu murid penderita ketidakmampuan agar kita bisa berkomunikasi di lingkungan mereka.

ANAK-ANAK BERBAKAT
Anak dengan kecerdasan diatas rata-rata (biasanya didefinisikan memiliki IQ 130 atau lebih) dan/atau punya bakat unggul dibeberapa bidang seperti music, seni, atau matemitika.

Karakteristik
Ellen Winner (1996), mendeskripsikan tiga kriteria yang menjadi ciri anak berbakat:
1.      Dewasa lebih dini (precocity)
2.      Belajar menuruti kemauan mereka sendiri
3.      Semangat untuk mengawasi

Studi Terman Klasik
Steven Ceci (1990) mengatakan bahwa analisis terhadap perkembangan kelompok dalam studi Terman menunjukkan sesuatu yang penting.Bukan IQ saja yang membuat mereka sukses.

Mendidik Anak Berbakat
Empat opsi program  untuk anak berbakat adalah
·         Kelas khusus
·         Akselerasi dan pengayaan di kelas regular
·         Program mentor dan pelatihan
·         Kerja/studi dan/ program pelayanan masyarakat.




TES STANDAR DAN PENGAJARAN

TES STANDAR DAN PENGAJARAN

Kriteria untuk Mengevaluasi Tes Standar
  • ·         Kelompok norma, kelompok dari individu yang sama yang sebelumnya telah diberi ujian oleh penguji
  • ·         Validitas, sejauh mana sebuah tes mengukur apa yang hendak diukur dan apakah inferensi tentang nilai tes itu akurat atau tidak.
  • ·         Validitas isi, kemampuan tes untuk mencakup sampel (to sample) isi yang hendak diukur.
  • ·         Validitas kriteria, kemampuan tes untuk memprediksi kinerja murid saat diukur dengan penilaian atau kriteria lain.
  • ·         Concurrent validity, relasi antara nilai tes dengan kriteria lain yang ada saat ini.
  • ·         Predictive validity, relasi antara nilai tes dengan kinerja masa depan murid.
  • ·         Construct validity, sejauh mana ada bukti bahwa sebuah tes mengukur konstruk tertentu. Sebuah konstruk adalah ciri atau karakteristik yang tidak bisa dilihat dari seseorang, seperti intelegensi (kecerdasan), gaya belajar, personalitas, atau kecemasan.
  • ·         Reliabilitas, sejauh mana sebuah prosedur tes bisa menghasilkan nilai yang konsisten dan dapat direproduksi.
  • ·         Test-retest reliability, sejauh mana sebuah tes menghasilkan kinerja yang sama ketika seorang siswa diberi tes yang sama dalam dua kesempatan yang berbeda.
  • ·         Alternative-forms reliability, reliabilitas ditentukan dengan memberikan bentuk yang berbeda untuk kelompok murid yang sama dan mengamati seberapa konsistenkah skornya.
  • ·         Split-half reliability, reliabilitas yang dinilai dengan membagi item tes menjadi dua bagian, seperti item bernomor genap dan ganjil. Nilai pada dua set item itu dibandingkan guna menentukan seberapa konsistenkah kinerja murid di kedua set itu.
  • ·         Keadilan

Membandingkan Tes Kecakapan dan Prestasi
·         Tes kecakapan, tipe tes yang didesain guna memprediksi kemampuan murid untuk mempelajari suatu keahlian atau menguasai sesuatu dengan pendidikan dan training tingkat lanjut.
·         Tes prestasi, tes yang dimaksudkan untuk mengukur apa yang dipelajari atau keahlian apa yang telah dikuasai murid.
·         Tes untuk subjek spesifik.
·         Tes diagnostik, terdiri dari evaluasi area pembelajaran spesifik secara relatif mendalam.

Memahami dan Menginterpretasikan Hasil Tes
  • ·         Statistik deskriptif, prosedur matematika yang dipakai untuk mendeskripsikan dan meringkas data (informasi) dengan cara yang bermakna.
  • ·         Distribusi frekuensi, sebuah daftar nilai biasanya terdiri dari yang tertinggi ke yang terendah, bersama dengan beberapa kali nilai itu muncul.
  • ·         Histogram, distribusi frekuensi dalam bentuk grafik.
  • ·         Tendensi sentral, statistik yang memberikan informasi tentang rata-rata atau nilai tipikal pada seperangkat data.
  • ·         Mean, rata-rata numerik dari sekelompok nilai.
  • ·         Median, nilai yang berada tepat di tengah-tengah distribusi nilai setelah nilai-nilai itu disusun (atau diurutkan) dari nilai tertinggi ke terendah.
  • ·         Mode, nilai yang paling sering muncul.
  • ·         Pengukuran variabilitas, ukuran yang memberi tahu kita tentang seberapa besar nilai bervariasi dari satu nilai ke nilai lainnya.
  • ·         Range, selisih antara nilai tertinggi dan nilai terendah.
  • ·         Standar deviasi, ukuran seberapa banyak satu set nilai bervariasi pada rata-rata diseputar mean nilai.

Distribusi normal, kurva berbentuk lonceng, di mana sebagian besar nilai  berkumpul disekitar mean; semakin jauh di bawah atau di atas mean, semakin jarang nilai itu muncul.

Nilai mentah, jumlah soal ujian yang dijawab murid dengan benar.

Nilai precentil-rank, persentase distribusi yang berada pada atau di bawah nilai.

Nilai stanine, skala 9 poin yang mendeskripsikan kinerja tes murid.

Nilai grade-equivalent, nilai yang mengindikasikan kinerja murid dalam hubungannya dengan level grade dan bulan-bulan satu tahun ajaran, dengan asumsi 10 bulan setiap tahun ajaran.

Nilai standar, nilai yang diekspresikan sebagai deviasi dari mean; menggunakan konsep deviasi standar.

Nilai z, nilai yang memberikan informasi tentang berapa banyak deviasi standar nilai mentah di atas atau di bawah mean.

Nilai T, nilai standar di mana meannya ditetapkan sebesar 50 dan deviasi standarnya sebesar 10.



Hasil Observasi Kelompok 10 Psi Pendidikan Kelas C: Penerapan Sistem Pembelajaran Full Day School di SD Siti Hajar Medan

LAPORAN HASIL OBSERVASI KELOMPOK 10
Gunawan S                             (16-167)
Chyntia Theresia Ginting        (16-168)
Giovanni Paulo A. Sipayung (16-172)
Annisa Yunlinanda                 (16-174)
Warda Tina Sofia                    (16-170)
Khairunnisa Anggita Rizqi     (16-175)
Marsha Dwi                           (16-214)
TOPIK : Konsep Pembelajaran serta Manajemen Kelas pada Pendidikan Sekolah Dasar
JUDUL: Penerapan Sistem Pembelajaran Fullday School di SD Siti Hajar Islamic School

1.     PENDAHULUAN
1.1.Sejarah dan Latar Belakang Fullday School
Fullday School berasal dari bahasa Inggris. Full artinya penuh, day artinya hari, sedangkan school artinya sekolah. Jadi dapat disimpulkan bahwa fullday school adalah sekolah sepanjang hari atau proses belajar mengajar yang diberlakukan dari pagi sampai sore hari. Umumnya sekolah yang menyelenggarakan pendidikan full day school dimulai 07.00 sampai 16.00. Hal yang diutamakan dalam Fullday School adalah pengaturan jadwal mata pelajaran dan pendalaman.
Dengan demikian, sistem full day school adalah komponen- komponen yang disusun dengan teratur dan baik untuk menunjang proses pendewasaan peserta didik melalui upaya pengajaran dan pelatihan dengan waktu di sekolah yang lebih panjang atau lama dibandingkan dengan sekolah-sekolah pada umumnya.
1.2.Sistem Pembelajaran Full Day School
Full Day School menerapkan suatu konsep dasar “Integrated Activity” dan “Integrated-Curriculum”. Model ini yang membedakan dengan sekolah pada umumnya. Dalam Full Day School semua program dan kegiatan siswa di sekolah, baik belajar, bermain, beribadah, dikemas dalam sebuah sistem pendidikan. Titik tekan pada Full Day School adalah siswa selalu berprestasi belajar dalam proses pembelajaran yang berkualitas yakni diharapkan akan terjadi perubahan positif dari setiap individu siswa sebagai hasil dari proses dan aktivitas dalam belajar.
Adapun prestasi belajar yang dimaksud terletak pada tiga ranah, yaitu:
1) Prestasi yang bersifat kognitif Adapun prestasi yang bersifat kognitif seperti kemampuan siswa dalam mengingat, memahami, menerapkan, mengamati, menganalisa, membuat analisa dan lain sebagianya.
2) Prestasi yang bersifat afektif Siswa dapat dianggap memiliki prestasi yang bersifat afektif, jika ia sudah bisa bersikap untuk menghargai, serta dapat menerima dan menolak terhadap suatu pernyataan dan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
 3) Prestasi yang bersifat psikomotorik Yang termasuk prestasi yang bersifat psikomotorik yaitu kecakapan eksperimen verbal dan nonverbal, keterampilan bertindak dan gerak. Misalnya seorang siswa menerima pelajaran tentang adab sopan santun kepada orang lain, khususnya kepada orang tuanya, maka si anak sudah dianggap mampu mengaplikasikannya dalam kehidupannya.
1.3.Tujuan Pembelajaran Full Day School
Pelaksanaan Fullday school merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi berbagai masalah pendidikan, baik dalam prestasi maupun dalam hal moral atau akhlak. Dengan mengikuti full day school, orang tua dapat mencegah dan menetralisir kemungkinan dari kegiatankegiatan anak yang menjerumus pada kegiatan yang negatif. Salah satu alasan para orangtua memilih dan memasukkan anaknya ke full day school adalah dari segi edukasi siswa.
Full day school selain bertujuan mengembangkan mutu pendidikan yang paling utama adalah full day school bertujuan sebagai salah satu upaya pembentukan akidah dan akhlak siswa dan menanamkan nilai-nilai positif. Jadi tujuan pelaksanaan full day school adalah memberikan dasar yang kuat terhadap siswa dan untuk mengembangkan minat dan bakat serta meningkatkan kecerdasan siswa dalam segala aspeknya.

1.4.Keunggulan dan Kelemahan Full Day School
Dengan adanya full day school membuat anak-anak akan lebih banyak belajar daripada bermain, karena adanya waktu terlibat dalam kelas, hal ini mengakibatkan produktifitas anak tinggi, maka juga mungkin lebih dekat dengan guru.
1.4.1. Keunggulan sistem full day school antara lain:
a.  Sistem full day school lebih memungkinkan terwujudnya pendidikan utuh. Benyamin S. Blom menyatakan bahwa sasaran (objektivitas) pendidikan meliputi tiga bidang yakni kognitif, afektif dan psikomotorik..
b. Sistem full day school lebih memungkinkan terwujudnya intensifikasi dan efektivitas proses edukasi. Intensifikasi adalah     proses pendidikan dalam arti siswa lebih mudah diarahkan dan dibentuk sesuai dengan misi dan orientasi lembaga bersangkutan, sebab aktivitas siswa lebih mudah terpantau karena sejak awal sudah diarahkan.
c. Sistem full day school merupakan lembaga yang terbukti efektif dalam mengaplikasikan kemampuan siswa dalam segala hal, proses kognitif, afektif maupun psikomotorik dan juga kemampuan bahasa asing.
1.4.1. Keunggulan sistem full day school antara lain
Namun demikian, sistem pembelajaran model full day school ini tidak terlepas dari kelemahan atau kekurangan antara lain:
a. Sistem full day school acapkali menimbulkan rasa bosan pada siswa. Sistem pembelajaran dengan pola full day school membutuhkan kesiapan baik fisik, psikologis, maupun intelektual yang bagus. Jadwal kegiatan pembelajaran yang padat dan penerapan sanksi yang konsisten dalam batas tertentu akan meyebabkan siswa menjadi jenuh. Namun bagi mereka yang telah siap, hal tersebut bukan suatu masalah, tetapi justru akan mendatangkan keasyikan tersendiri, oleh karenanya kejelian dan improvisasi pengelolaan dalam hal ini sangat dibutuhkan. Keahlian dalam merancang full day school sehingga tidak membosankan.
b.  Sistem full day school memerlukan perhatian dan kesungguhan manajemen bagi pengelola, agar proses pembelajaran pada lembaga pendidikan yang berpola full day school berlangsung optimal, sangat dibutuhkan perhatian dan curahan pemikiran terlebih dari pengelolaannya, bahkan pengorbanan baik fisik, psikologis, material dan lainnya. Tanpa hal demikian, full day school tidak akan mencapai hasil optimal bahkan boleh jadi hanya sekedar rutinitas yang tanpa makna.
Dengan diterapkanya sistem full day school diharapkan peserta didik dapat memperoleh:
a. Pendidikan umum yang antisipatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
b. Pendidikan keAgamaan  (Kitab Suci, Hukum Agama, dan wawasan lain) secara layak dan proposional
c. Pendidikan kepribadian yang antisipatif terhadap perkembangan sosial budaya yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan globalisasi
d. Potensi anak tersalurkan melalui kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler
e. Pengaruh negatif kegiatan anak di luar sekolah dapat dikurangi seminimal mungkin kerena waktu pendidikan anak di sekolah lebih lama, terencana dan terarah
g. Anak mendapatkan pelajaran dan bimbingan ibadah praktis.











2.     PELAKSANAAN
1.     Jadwal Pelaksanaan Observasi
1.1.      PENJELASAN DESKRIPSI SEKOLAH
Nama Sekolah                                     : SD Siti Hajar Islamic Full Day School
Alamat                                                : Jalan Jamin Ginting KM. 11, Paya Bundung, Kel.Simpang Selayang, Kec. Medan Tuntungan, Simpang Selayang, Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara 20135
Uang Sekolah                                      :  Rp. 660.000
Website                                               :  www.sitihajarschool.org
1.2.      URAIAN AKTIVITAS SEKOLAH
JADWAL KEGIATAN SDIT SITI HAJAR ISLAMIC FULL DAY SCHOOL
Senin – Jumat pada pukul 07.25 s/d 16.30 WIB
WAKTU
KEGIATAN
07.25 – 07.30
Bel Masuk dan Persiapan Pembelajaran
07.30 – 08.30
Greeting : Iqro’ &Tahfidz
08.30 – 09.25
ShalatDhuha, Snack &Istirahat
09.25 – 12.20
Pembelajaran
12.20 – 13.45
ShalatZuhur, Makan Siang &Istirahat
13.45 – 14.45
Pembelajaran
14.45 – 15.00
Juice Time
15.00 – 16.00
Pembelajaran
16.00 – 16.30
ShalatAshar, Tadarus (Kelas 4 s/d 6)
16.30
Pulang


1.3.       URAIAN AKTIVITAS OBSERVASI
1.      Hari/Tanggal Pelaksanaan : Senin, 27 Maret 2017
2.      Waktu Pelaksanaan                       : 13.00 WIB – 16.00 WIB
3.      Objek Observasi                            : Kelas I C SD Siti Hajar
                                                              Kelas VI A SD Siti Hajar
                                                              Syifa & Abi (Murid kelas I C yang di wawancarai)
4.      Metode                                          : Observasi, Games, dan Wawancara
5.      Pembagian Tugas                          : Gunawan S                           (Pengamat, Narator)
  Chyntia Theresia Ginting      (Pengamat, Narator)
  Giovanni Paulo A. Sipayung (Pengamat, Dokumentasi)
  Annisa Yunlinanda               (Pengamat, Notulen)
  Warda Tina Sofia                  (Pengamat, Notulen)
  Khairunnisa Anggita Rizqi   (Pengamat, Dokumentasi)
  Marsha Dwi                         (Pengamat, Notulen)
JADWAL PELAKSANAAN OBSERVASI
Tanggal/ Hari
Kegiatan
12 Maret 2017
Diskusi pemilihan topik perencanaan kegiatan dan metode yang digunakan
14 Maret 2017
Pembuatan surat izin ke fakultas
17 Maret 2017
Permohonan surat izin ke fakultas
21 Maret 2017
Permohonan surat izin ke SD Siti Hajar Medan
27 Maret 2017
Pelaksanaan Observasi
7 April 2017
Evaluasi Observasi
11 April 2017
Posting di blog


KEGIATAN SELAMA PELAKSANAAN OBSERVASI, 27 Maret 2017
Waktu
Kegiatan
13.00
Tiba di lokasi pengamatan
13.00-14.00
Konfirmasi dengan pihak sekolah mengenai kelas mana saja yang di izinkan untuk di observasi
14.00-14.30
Masuk ke dalam ruangan kelas I C lalu kami mengamati proses KBM di dalam kelas tersebut

14.30-14.50
Memberikan games kepada adik-adik berupa pertanyaan seperti perhitungan, sambung ayat juz amma lalu memberikan reward berupa permen dan makanan ringan

14.50-15.00
Berfoto bersama murid dan pihak pengajar di kelas I C
15.00-15.10
Mengikuti murid melaksanakan “juice time”’
15.10-15.30
Mewawancarai murid perwakilan dari kelas I C tentang penerapan full day school
15.30-15.55
Masuk ke dalam ruangan kelas VI A lalu kami mengamati proses KBM di dalam kelas tersebut
15.55-16.00
Berfoto bersama murid dan pihak pengajar di kelas VI A
16.00-16.30
Sayonara dan berfoto bersama Kepala Sekolah SD Siti Hajar

2.     Hasil Observasi
A.    SISTEM PEMBELAJARAN
Pada penerapan system pembelajaran fullday school ini, Guru- guru di SD Siti Hajar menyampaikan materi dengan tepat, efektif dan juga kreatif sangat di butuhkan dalam sistem pembelajaran dewasa ini. Di sekolah ini, Guru menggunakan metode alat peraga dalam menjelaskan materi pembelajaran. Contohnya, Guru menggunakan kelereng dan miniatur timbangan untuk menjelaskan mata pelajaran matematika. Di sini, anak-anak juga diajarkan mengucapkan doa (bismillah) sebelum mereka mengerjakan soal atau memulai kegiatan lainnya. Sekolah memfasilitasi murid dengan Guru yang berpengalaman dan profesional. Terlihat dari bagaimana mereka menguasai bahasa inggris dalam interaksi di kelas dengan murid, juga cara-cara kreatif dalam memberi pengarahan dan penjelasan tentang materi yang akan di ajarkan setiap harinya.
Dalam pembelajaran, di sekolah dasar khususnya, pemberian hadiah atau reward adalah hal yang penting untuk di perhatikan. Sistem pembelajaran di sekolah ini, akan memberikan hadiah berupa pin pintar untuk anak-anak yang berprestasi di dalam kelas. Pin pintar ini akan diberikan pada tiga murid yang mampu menjawab soal atau pertanyaan secara lisan maupun tulisan dengan benar dan cepat. Reward seperti ini merupakan penguatan positif yang dilakukan agar murid- murid dapat termotivasi untuk lebih aktif dalam pembelajaran, tidak hanya untuk mengharapkan sebuah reward sebagai imbalan, tetapi menganggap hal tersebut sebagai proses pembelajaran.

B.     STRUKTUR KELAS
Manajemen atau struktur kelas dalam penerapan sistem pembelajaran fullday school adalah sebagai berikut:
·         Guru dapat berinteraksi dengan murid, dengan bergerak bebas ke meja murid untuk melihat dan mengontrol pekerjaan para murid.
·         Media pembelajaran yang lengkap, terdapat printer dan laptop, dan papan tulis yang dapat dijangkau.
·         Kelas yang bersih.
·         Suhu ruangan kelas stabil.
·         Terdapat loker atau tempat penyimpanan di dalam kelas.
·         Di dinding kelas banyak terdapat prakarya yang dibuat oleh murid-murid.
·         Gaya penataan kelas berubah setiap minggu, agar para siswa tidak bosan dan mengenal teman-temannya yang lain.
·         Ruangan kelas mendapatkan pencahayaan yang cukup.







                                                                                                   
3.     EVALUASI OBSERVASI
Hal yang membuat kami tertarik untuk mengobservasi sekolah ini disebabkan oleh sistem pembelajaran yang unik, Fullday School. Hal yang kami observasi adalah bagaimana bentuk manajemen kelas, konsep belajar, dan instruksi pembelajaran yang digunakan guru. Penyerahan surat izin kepada sekolah yang bersangkutan menjadi halangan bagi kami karena surat baru diterima sehari sebelum pelaksanaan observasi.
Perencanaan yang sudah disusun tidak berjalan dengan lancar karna berbagai hambatan yang muncul. Awalnya kami ingin memberikan beberapa materi kepada siswa- siswi peserta didik. Tetapi karena waktu yang sangat singkat, membuat kami hanya memberikan beberapa games untuk menambah siswa- siswi peserta didik menjadi lebih bersemangat dalam menerima pelajaran.
Suasana yang tidak kondusif juga menjadi penghalang bagi kami dalam melakukan observasi. Anak- anak yang cenderung memiliki rasa ingin tahu, lebih mendekati kami daripada guru yang sedang mengajar di depan. Walaupun demikian, suasana kelas masih berjalan dengan aktif karena sistem pembelajaran yang diberikan guru tidak membuat murid mudah bosan.











                                                                                           

Testimoni Anggota Kelompok
Annisa Yunlinanda (16-174)
Saya berterima kasih kepada pikan pengajar yang telah mengadakan tugas observasi ini karena tugas ini merupakan tugas yang sangat menyenangkan, menantang, dan bermanfaat bagi Saya karena baru pertama kali Saya alami.Saya rasa menyenangkan karena dapat berinteraksi dengan adik-adik yang pintar dan lucu-lucu, dan pihak pengajar yang ramah dan baik.Saya rasa menantang karena dalam observasi ini melatih Saya berkomunikasi dengan orang banyak yaitu murid-murid SD Siti Hajar.Saya rasa bermanfaat karena Saya dapat mengetahui sistem pembelajaran yang sebelumnya belum Saya ketahui, cara bagaimana menghadapi anak-anak, melatih kemampuan bicara lebih baik lagi, dll.
Giovanni Paulo (16-172)
Hal pertama yang saya rasakan saat sampai di sekolah tersebut adalah bingung. Awalnya saya tidak tahu harus berbuat apa untuk observasi ini. Saya hanya memulai dengan mendokumentasikan kegiatan- kegiatan dalam observasi seperti games, proses belajar mengajar, wawancara dan pemberian reward. Seiring berjalannya kegiatan observasi, saya merasa lebih mendekatkan diri dengan anak- anak dan membuat saya lebih akrab dengan mereka. Suasana kelas yang sejuk membuat saya tidak cepat merasa bosan jika berada di dalam kelas. Saya juga bisa menambah pengalaman saya dalam mengobservasi kegiatan orang lain, dan membandingkannya dengan hal psikologi yang saya dapatkan dibangku perkuliahan.
Chyntia Ginting (16-168)
Menurut saya, observasi yang kami laksanakan kemarin sangat menyenangkan, terlebih ketika bermain dengan adik- adik di kelas I C, tetapi kurang menyenangkan bermain di kelas VI A. Hal ini membuat saya lebih tertarik untuk mendalami mata kuliah Psikologi Pendidikan.
Marsha Dwi A. (16-214)
Testimoni dari saya, saya merasa sangat senang bisa bermain dan berkenalan dengan adik- adik di SD Siti Hajar, terkhusus di kelas I C, kedatangan kami disambut dengan baik oleh anak- anak dan para guru yang mengajar, dan saya juga dapat melihat langsung apa yang sebenarnya yang saya pelajari dari mata kuliah Psikologi Pendidikan
Warda Tina Sofia (16-170)
Menurut saya, observasi yang saya lakukan dengan kelompok ini sangat bermanfaat dan menyenangkan. Melalui Observasi ini, saya mendapatkan banyak pelajaran bermanfaat terutama bagaimana pola pengajaran yang dilakukan ketika seorang anak sekolah satu harian  (Fullday School)
Khairunnisa Anggita (16-175)
Hari senin kemarin adalah pengalaman pertama saya melakukan observasi. Saya dan teman-teman melakukan observasi di Sekolah Dasar Islam Terpadu "Siti Hajar" yang berlokasi di Jl. Jamin Ginting. Pada saat kami datang, kami berbincang-bincang sebentar dengan kepala sekolah lalu kami diantar ke kelas. Kami disambut hangat oleh murid-murid, dan hal ini membuat rasa lelah kami hilang.
Kami melihat langsung pembelajaran dan manajemen kelas disana. Anak-anak disana adalah anak yang aktif, dan termotivasi dengan baik, mereka dengan giat langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Sekolah Siti Hajar adalah Sekolah Full Day School, saya pun penasaran apakah adik-adik ini tidak malas dan capek bersekolah sampai sore. Saya pun bertanya hampir kepada semua murid di kelas dan tidak ada yang menjawab mereka lelah, mereka malah berkata mereka senang bersekolah sampai sore dan tidak pernah bosan. Sungguh hal yang harusnya dicontoh, karena saya saja yang hanya kuliah beberapa jam sering merasa capek dan malas untuk kuliah hehehehe. Setelah selesai mengobservasi, kami memberi snack kepada mereka sebagai ucapan terimakasih sudah dibolehkan untuk berada di kelas bersama mereka, lalu kami melakukan sesi foto, dan mengucapkan bye-bye kepada mereka.
Jujur, saya sangat senang bertemu dengan adik-adik di SD tersebut. Semoga saja mereka terus rajin belajar agar kelak bisa meraih segala cita-cita yang mereka idamkan dan dapat menjadi orang berguna untuk negara ini. Dan semoga kita bisa bertemu lagi ya, adik-adik!







DAFTAR PUSTAKA